03 December 2009

SEMARANG HERITAGE WALK III : SEMARANG, KANALEN, EN HAVENSTAD

Semarang Heritage Walk merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Budaya Belanda Widya Mitra. Pada Sabtu 14 November 2009, untuk ketiga kalinya acara ini kembali dilaksanakan. Peserta diminta berkumpul di Widya Mitra pada pukul 7 pagi. Harga tiket yang murah meriah ternyata berpengaruh besar terhadap jumlah peserta. Dua mini bus yang disediakan panitia dengan sukses terjejali sampai penuh. Dengan pasrah aku terdesak kesana kemari dalam usaha mendapatkan tempat duduk. Tanpa bermaksud mengabaikan kehadiran beberapa opa-opa dan oma-oma yang duduk manis di deretan depan kursi bus, mayoritas penduduk bus yang aku tumpangi ternyata mahasiswa S1 Sejarah Undip. Jadi kebayang dong gimana riuhnya suasana bus. Yang lebih di luar dugaan, para ABG itu (eh, mahasiswa S1 tuh masi keitung abege gak sih?) ternyata semuanya omong pakai bahasa Indonesia dengan logat Jakarta/Betawi. Jadi bingung,,,perasaan kan aku udah pulang ke Semarang lagi, kok masih berasa di Jakarta gini 

Rute perjalanan diawali dengan kunjungan ke Kampung Melayu. Menyusuri jalan Layur, terlihat Masjid Menara yang sukses melakukan perlawanan terhadap waktu. Meski usia tua berusaha menggerogoti keindahannya, masjid ini tetap berdiri dengan indahnya. Bentuknya yang unik dan warna cat dinding yang cerah membuat masjid ini terlihat makin menarik. Beberapa celetukan peserta yang minta turun dari bus untuk masuk ke lokasi masjid, dengan pasti ditolak oleh panitia. Alasan yang dikemukakan dengan jelas bisa dilihat dengan mata telanjang, jalan Layur sedang terendam air sedalam 10 cm, demikian pula halaman masjid. Daerah ini memang kawasan rawan banjir. Hujan deras yang berlangsung selama 1 jam saja sudah cukup jadi alasan untuk membuat kampung ini kalang kabut terendam banjir. Masalah yang dihadapi penduduk setempat selama musim penghujan ini ternyata tidak dengan serta merta hilang ketika musim kemarau datang. Pada musim kemarau, penduduk kampung ini akan tetap berurusan dengan air yang berasal dari naiknya permukaan air laut, fenomena yang biasa disebut rob.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pelabuhan Lama. Keberadaan pelabuhan ini ditandai dengan berdirinya menara mercusuar Willem III. Konon nama menara mercusuar ini diambil dari nama Raja Willem III yang meresmikan menara tersebut pada akhir abad ke-19. Sangat disayangkan kondisi menara ini semakin mengenaskan karena level tanah yang semakin turun. Saat ini dasar menara telah berada lebih dari 2 meter di bawah permukaan tanah di sekitarnya. Kondisi mengenaskan yang terbiarkan ini terasa semakin ironis apabila mengingat menara mercusuar ini masih melakukan fungsinya dengan baik.

Menara mercusuar dengan ketinggian sekitar 30 meter ini terdiri atas 10 lantai. Rombongan yang ingin naik ke puncak menara terpaksa dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Hal ini perlu dilakukan mengingat kekuatan bangunan yang sudah tua. Pengalaman menaiki anak tangga demi anak tangga menuju puncak menara ternyata cukup mendebarkan. Tiap lantai memiliki 16 anak tangga melingkar, makin naik ke atas lebar ruangan semakin sempit sehingga lebar anak tangga juga semakin mengecil. Kondisi ini makin diperseru dengan adanya genangan air di sebagian anak tangga yang membuat hati was-was takut tergelincir jatuh. Ternyata para petugas pengawas menara ini memang punya alasan kuat ketika meminta pengunjung melepas alas kaki sebelum mulai menaiki anak tangga pertama.
Setelah puas bergantian menikmati pemandangan kota Semarang dari atas puncak menara mercusuar, rombongan bergerak ke kawasan Sleko. Di kawasan ini terdapat sebuah bangunan tua yang dulunya berfungsi sebagai menara pengawas kapal dan kantor pelabuhan. Gedung yang masih menyiratkan sisa-sisa kemegahan di masa lalu ini, sekarang tinggal puing bangunan dengan lapisan dinding yang telah terkelupas dan tumpukan sampah di sekitarnya.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pecinan, di mana terdapat klenteng Tay Kak Sie dengan replika kapal Cheng Ho di depannya. Dengan segera rombongan terpencar menjadi beberapa kelompok sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Yang bergegas menaiki replika kapal dan berebut berpose di depan kamera, pastilah memang berminat pada kamera. Demikian pula pecahan rombongan yang berlarian menyerbu lunpia gang Lombok, bisa dipastikan merupakan gerombolan si gembul yang akan dengan lahap menyantap lunpia super enak ini. Dan bicara tentang makanan, sudah pasti aku termasuk di dalamnya :D

Acara ditutup dengan kunjungan ke Lawang Sewu, yang akan diakhiri dengan diskusi yang menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidang arkeologi dan konservasi bangunan kuno. Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu dibagikan makan siang dalam kotak yang (alamak) isinya menggugah selera. Perut yang baru saja diisi lunpia ternyata teuteup menjerit minta diisi lagi begitu melihat isi kotak makanan. Isi diskusi yang sebenarnya menarik pun akhirnya terpaksa dilalui dengan kepala yang beberapa kali terkulai tanpa kontrol akibat kelelahan dan kekenyangan.
Singkat kata, acara ini layak kunjung. Ucapan selamat dan terimakasih layak disampaikan untuk koordinator Widya Mitra Satrio Seno Prakoso, yang semoga pada tahun-tahun mendatang tidak akan hilang semangat melanjutkan kegiatan ini.

Semarang Heritage Walk merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Budaya Belanda Widya Mitra. Pada Sabtu 14 November 2009, untuk ketiga kalinya acara ini kembali dilaksanakan. Peserta diminta berkumpul di Widya Mitra pada pukul 7 pagi. Harga tiket yang murah meriah ternyata berpengaruh besar terhadap jumlah peserta. Dua mini bus yang disediakan panitia dengan sukses terjejali sampai penuh. Dengan pasrah aku terdesak kesana kemari dalam usaha mendapatkan tempat duduk. Tanpa bermaksud mengabaikan kehadiran beberapa opa-opa dan oma-oma yang duduk manis di deretan depan kursi bus, mayoritas penduduk bus yang aku tumpangi ternyata mahasiswa S1 Sejarah Undip. Jadi kebayang dong gimana riuhnya suasana bus. Yang lebih di luar dugaan, para ABG itu (eh, mahasiswa S1 tuh masi keitung abege gak sih?) ternyata semuanya omong pakai bahasa Indonesia dengan logat Jakarta/Betawi. Jadi bingung,,,perasaan kan aku udah pulang ke Semarang lagi, kok masih berasa di Jakarta gini 

Rute perjalanan diawali dengan kunjungan ke Kampung Melayu. Menyusuri jalan Layur, terlihat Masjid Menara yang sukses melakukan perlawanan terhadap waktu. Meski usia tua berusaha menggerogoti keindahannya, masjid ini tetap berdiri dengan indahnya. Bentuknya yang unik dan warna cat dinding yang cerah membuat masjid ini terlihat makin menarik. Beberapa celetukan peserta yang minta turun dari bus untuk masuk ke lokasi masjid, dengan pasti ditolak oleh panitia. Alasan yang dikemukakan dengan jelas bisa dilihat dengan mata telanjang, jalan Layur sedang terendam air sedalam 10 cm, demikian pula halaman masjid. Daerah ini memang kawasan rawan banjir. Hujan deras yang berlangsung selama 1 jam saja sudah cukup jadi alasan untuk membuat kampung ini kalang kabut terendam banjir. Masalah yang dihadapi penduduk setempat selama musim penghujan ini ternyata tidak dengan serta merta hilang ketika musim kemarau datang. Pada musim kemarau, penduduk kampung ini akan tetap berurusan dengan air yang berasal dari naiknya permukaan air laut, fenomena yang biasa disebut rob.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pelabuhan Lama. Keberadaan pelabuhan ini ditandai dengan berdirinya menara mercusuar Willem III. Konon nama menara mercusuar ini diambil dari nama Raja Willem III yang meresmikan menara tersebut pada akhir abad ke-19. Sangat disayangkan kondisi menara ini semakin mengenaskan karena level tanah yang semakin turun. Saat ini dasar menara telah berada lebih dari 2 meter di bawah permukaan tanah di sekitarnya. Kondisi mengenaskan yang terbiarkan ini terasa semakin ironis apabila mengingat menara mercusuar ini masih melakukan fungsinya dengan baik.

Menara mercusuar dengan ketinggian sekitar 30 meter ini terdiri atas 10 lantai. Rombongan yang ingin naik ke puncak menara terpaksa dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Hal ini perlu dilakukan mengingat kekuatan bangunan yang sudah tua. Pengalaman menaiki anak tangga demi anak tangga menuju puncak menara ternyata cukup mendebarkan. Tiap lantai memiliki 16 anak tangga melingkar, makin naik ke atas lebar ruangan semakin sempit sehingga lebar anak tangga juga semakin mengecil. Kondisi ini makin diperseru dengan adanya genangan air di sebagian anak tangga yang membuat hati was-was takut tergelincir jatuh. Ternyata para petugas pengawas menara ini memang punya alasan kuat ketika meminta pengunjung melepas alas kaki sebelum mulai menaiki anak tangga pertama.
Setelah puas bergantian menikmati pemandangan kota Semarang dari atas puncak menara mercusuar, rombongan bergerak ke kawasan Sleko. Di kawasan ini terdapat sebuah bangunan tua yang dulunya berfungsi sebagai menara pengawas kapal dan kantor pelabuhan. Gedung yang masih menyiratkan sisa-sisa kemegahan di masa lalu ini, sekarang tinggal puing bangunan dengan lapisan dinding yang telah terkelupas dan tumpukan sampah di sekitarnya.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pecinan, di mana terdapat klenteng Tay Kak Sie dengan replika kapal Cheng Ho di depannya. Dengan segera rombongan terpencar menjadi beberapa kelompok sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Yang bergegas menaiki replika kapal dan berebut berpose di depan kamera, pastilah memang berminat pada kamera. Demikian pula pecahan rombongan yang berlarian menyerbu lunpia gang Lombok, bisa dipastikan merupakan gerombolan si gembul yang akan dengan lahap menyantap lunpia super enak ini. Dan bicara tentang makanan, sudah pasti aku termasuk di dalamnya :D

Acara ditutup dengan kunjungan ke Lawang Sewu, yang akan diakhiri dengan diskusi yang menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidang arkeologi dan konservasi bangunan kuno. Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu dibagikan makan siang dalam kotak yang (alamak) isinya menggugah selera. Perut yang baru saja diisi lunpia ternyata teuteup menjerit minta diisi lagi begitu melihat isi kotak makanan. Isi diskusi yang sebenarnya menarik pun akhirnya terpaksa dilalui dengan kepala yang beberapa kali terkulai tanpa kontrol akibat kelelahan dan kekenyangan.
Singkat kata, acara ini layak kunjung. Ucapan selamat dan terimakasih layak disampaikan untuk koordinator Widya Mitra Satrio Seno Prakoso, yang semoga pada tahun-tahun mendatang tidak akan hilang semangat melanjutkan kegiatan ini.

1 comment:

nkey said...

foto dong... fotonya mana?? :)