29 April 2008

AKTIF atau PASIF???

Serasa kembali ke masa2 indah SMP ga sehh?? Belajar lagi tentang kalimat aktif dan pasif. Bahasa Indonesia yang sering dianggap sederhana, ternyata menyimpan kerumitan tersembunyi di dalamnya….hwehehe…

Q sadar ‘n btobat juga lom lama…kalimat aktif-pasif ternyata tidak sesimple yang dipikir selama ini… Eh, tapi memang ada yang simple juga ding…:D seperti contoh di bawah ini :

Aktif : (1) Nina memukul Wilda.

Pasif : (2) Wilda dipukul (oleh) Nina.

Kalimat (1) dan (2) di atas memiliki makna yang sama, yaitu bahwa Nina melakukan perbuatan memukul Wilda, dan Wilda merasakan penderitaan akibat dipukul oleh Nina……(*kasian Wilda…hikz*).

Perbedaan yang muncul di antara kedua kalimat di atas hanyalah terletak pada penekanan bagian yang dianggap lebih penting oleh penutur. Pada kalimat (1), bagian yang dianggap lebih penting dan diberi penekanan adalah pelaku (Nina) --untuk selanjutnya disebut tema--, dan sisa kalimat (memukul Wilda) disebut rema. Sedangkan pada kalimat kedua, bagian yang dianggap lebih penting adalah penderita/korban (Wilda).

Tidak terjadi pergeseran makna pada kedua kalimat tersebut. Baik pada kalimat (1) maupun (2), makna yang muncul adalah Nina melakukan perbuatan memukul (Wilda) dan Wilda menerima pukulan (dari Nina).

Memang demikianlah hendaknya yang terjadi ketika suatu kalimat aktif diubah menjadi kalimat pasif…makna tetap sama, penekanan berbeda.

Namun demikian, ternyata bahasa Indonesia memiliki beberapa kata yang tidak memungkinkan untuk dipasifkan tanpa mengubah makna. Kata-kata yang dimaksud diantaranya : mau, ingin, dan berhasil.

Kalimat aktif (3) Iis mau mencium Eko, tentunya tidak bisa dipasifkan menjadi kalimat (4) *Eko mau dicium (oleh) Iis, tanpa (kemungkinan terjadi) reaksi protes dari (penderita) Eko yang sangat dimungkinkan akan melotot dan berkata “sapa juga yang mau dicium ma Iis???”

Dari perubahan kalimat (3) menjadi kalimat (4), kita tahu bahwa telah terjadi tidak hanya perubahan penekanan, tetapi juga telah terjadi perubahan makna.

Hal yang sama juga terjadi dalam kalimat aktif (5) Imam ingin menceraikan Eka, yang tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif (6) *Eka ingin diceraikan (oleh) Imam tanpa meninmbulkan perubahan makna, karena justru terdapat kemungkinan bahwa sebenarnya Eka tidak menginginkan adanya perceraian tersebut.

Kata berhasil juga menimbulkan permasalah tersendiri sebagaimana terlihat pada kalimat aktif (7) Polisi berhasil menangkap seorang residivis kambuhan yang ternyata juga tidak bisa langsung dipasifkan menjadi kalimat (8) *Seorang residivis kambuhan berhasil ditangkap (oleh) polisi tanpa menimbulkan perubahan makna. Kalimat (7) berterima secara logika karena untuk mencapai keberhasilan tersebut (menangkap seorang residivis), tentunya polisi melakukan upaya-upaya tertentu. Sedangkan dalam kalimat (8), tentulah menjadi tidak masuk akal apabila diasumsikan seorang residivis melakukan upaya (apapun) agar bisa/berhasil ditangkap oleh polisi.

Selain harus memperhatikan kata-kata tertentu, ternyata seorang penutur bahasa (apapun) juga harus memperhatikan budaya yang berlaku dalam masyarakat bahasa tersebut. Kalimat aktif bahasa Indonesia (9) Arif menceraikan Tuti, ternyata menjadi tidak berterima apabila posisi participant dibalik seperti dalam kalimat (10) *Tuti menceraikan Arif. Kalimat (10) berterima secara gramatikal, tapi tidak berterima secara budaya karena dalam masyarakat Indonesia, hal yang dianggap lumrah terjadi adalah seorang suami menceraikan istrinya, dan bukan sebaliknya.

Kasus dalam kalimat (9) dan (10) bisa menjadi lain cerita apabila terjadi dalam komunitas yang mengijinkan seorang istri menceraikan suaminya, sebagaimana lazim dalam komunitas berbahasa Inggris. Kalimat bahasa Inggris (11) John divorces Mary sama berterimanya dengan kalimat (12) Mary divorces John, karena memang dalam komunitas bahasa tersebut, tindakan menceraikan tidak hanya menjadi monopoli dan wewenang kaum laki-laki.

:-? Hmm…mungkin memang masih banyak aspek bahasa Indonesia yang harus digali lebih dalam yah….

Ada ide lain…???

Tulisan ini didedikasikan untuk dosen syntax (yang kata Iis sexy abis...hehe), temen2 seangkatan yang manis ‘n kompak :P (*yuuukk…..qt taklukan syntax*), dan tentu saja juga untuk my beloved Mid (wherever you are, my luv…).

Serasa kembali ke masa2 indah SMP ga sehh?? Belajar lagi tentang kalimat aktif dan pasif. Bahasa Indonesia yang sering dianggap sederhana, ternyata menyimpan kerumitan tersembunyi di dalamnya….hwehehe…

Q sadar ‘n btobat juga lom lama…kalimat aktif-pasif ternyata tidak sesimple yang dipikir selama ini… Eh, tapi memang ada yang simple juga ding…:D seperti contoh di bawah ini :

Aktif : (1) Nina memukul Wilda.

Pasif : (2) Wilda dipukul (oleh) Nina.

Kalimat (1) dan (2) di atas memiliki makna yang sama, yaitu bahwa Nina melakukan perbuatan memukul Wilda, dan Wilda merasakan penderitaan akibat dipukul oleh Nina……(*kasian Wilda…hikz*).

Perbedaan yang muncul di antara kedua kalimat di atas hanyalah terletak pada penekanan bagian yang dianggap lebih penting oleh penutur. Pada kalimat (1), bagian yang dianggap lebih penting dan diberi penekanan adalah pelaku (Nina) --untuk selanjutnya disebut tema--, dan sisa kalimat (memukul Wilda) disebut rema. Sedangkan pada kalimat kedua, bagian yang dianggap lebih penting adalah penderita/korban (Wilda).

Tidak terjadi pergeseran makna pada kedua kalimat tersebut. Baik pada kalimat (1) maupun (2), makna yang muncul adalah Nina melakukan perbuatan memukul (Wilda) dan Wilda menerima pukulan (dari Nina).

Memang demikianlah hendaknya yang terjadi ketika suatu kalimat aktif diubah menjadi kalimat pasif…makna tetap sama, penekanan berbeda.

Namun demikian, ternyata bahasa Indonesia memiliki beberapa kata yang tidak memungkinkan untuk dipasifkan tanpa mengubah makna. Kata-kata yang dimaksud diantaranya : mau, ingin, dan berhasil.

Kalimat aktif (3) Iis mau mencium Eko, tentunya tidak bisa dipasifkan menjadi kalimat (4) *Eko mau dicium (oleh) Iis, tanpa (kemungkinan terjadi) reaksi protes dari (penderita) Eko yang sangat dimungkinkan akan melotot dan berkata “sapa juga yang mau dicium ma Iis???”

Dari perubahan kalimat (3) menjadi kalimat (4), kita tahu bahwa telah terjadi tidak hanya perubahan penekanan, tetapi juga telah terjadi perubahan makna.

Hal yang sama juga terjadi dalam kalimat aktif (5) Imam ingin menceraikan Eka, yang tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif (6) *Eka ingin diceraikan (oleh) Imam tanpa meninmbulkan perubahan makna, karena justru terdapat kemungkinan bahwa sebenarnya Eka tidak menginginkan adanya perceraian tersebut.

Kata berhasil juga menimbulkan permasalah tersendiri sebagaimana terlihat pada kalimat aktif (7) Polisi berhasil menangkap seorang residivis kambuhan yang ternyata juga tidak bisa langsung dipasifkan menjadi kalimat (8) *Seorang residivis kambuhan berhasil ditangkap (oleh) polisi tanpa menimbulkan perubahan makna. Kalimat (7) berterima secara logika karena untuk mencapai keberhasilan tersebut (menangkap seorang residivis), tentunya polisi melakukan upaya-upaya tertentu. Sedangkan dalam kalimat (8), tentulah menjadi tidak masuk akal apabila diasumsikan seorang residivis melakukan upaya (apapun) agar bisa/berhasil ditangkap oleh polisi.

Selain harus memperhatikan kata-kata tertentu, ternyata seorang penutur bahasa (apapun) juga harus memperhatikan budaya yang berlaku dalam masyarakat bahasa tersebut. Kalimat aktif bahasa Indonesia (9) Arif menceraikan Tuti, ternyata menjadi tidak berterima apabila posisi participant dibalik seperti dalam kalimat (10) *Tuti menceraikan Arif. Kalimat (10) berterima secara gramatikal, tapi tidak berterima secara budaya karena dalam masyarakat Indonesia, hal yang dianggap lumrah terjadi adalah seorang suami menceraikan istrinya, dan bukan sebaliknya.

Kasus dalam kalimat (9) dan (10) bisa menjadi lain cerita apabila terjadi dalam komunitas yang mengijinkan seorang istri menceraikan suaminya, sebagaimana lazim dalam komunitas berbahasa Inggris. Kalimat bahasa Inggris (11) John divorces Mary sama berterimanya dengan kalimat (12) Mary divorces John, karena memang dalam komunitas bahasa tersebut, tindakan menceraikan tidak hanya menjadi monopoli dan wewenang kaum laki-laki.

:-? Hmm…mungkin memang masih banyak aspek bahasa Indonesia yang harus digali lebih dalam yah….

Ada ide lain…???

Tulisan ini didedikasikan untuk dosen syntax (yang kata Iis sexy abis...hehe), temen2 seangkatan yang manis ‘n kompak :P (*yuuukk…..qt taklukan syntax*), dan tentu saja juga untuk my beloved Mid (wherever you are, my luv…).

4 comments:

Anonymous said...

postingan ini mendiskreditkan saya...saya ini cinta damai dan tidak suka memukul..saya curiga ada tendensi tertentu untuk menjatuhkan saya...

*opo to ki

smartilicious said...

@ nina :
wis to...sabar..sabar..

contoh kalimat itu hanya menyalurkan aspirasi anggota dewan yang sdh lama tpendam....kwekeke

ngaku..!!!

*ampun...ampun* (sembunyi di balik pohon tebu)

Anonymous said...

mbak nina ki jan, wes elek, senenge memukul

*mblayu*

smartilicious said...

@puput :
hidup wong elek!!!
hayo put, milih...kowe ayu pa elek? :))

*pertanyaan jebakan, eh?*