27 November 2007

PRAGMATIK

TINDAK TUTUR

Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.

Di dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin (1962:1-11) membedakan tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji –benar atau salah—dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.

Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu
3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya
5. Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru.

Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kesesuaian antara modus dan fungsinya secara konvensional inilah yang yang merupakan tindak tutur langsung. Sebaliknya, jika tututan deklaratif digunakan untuk bertanya atau memerintah –atau tuturan yang bermodus lain yang digunakan secara tidak konvensional--, tuturan itu merupakan tindak tutur tidak langsung. Sehubungan dengan kelangsungan dan ketaklangsungan tuturan, tindak tutur juga dibedakan menjadi tindak tutur harfiah (maksud sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya) dan tidak harfiah (maksud tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya). Jika dua jenis tindak tutur, langsung dan taklangsung, digabung dengan dua jenis tindak tutur lain, harfiah dan takharfiah, diperoleh empat macam tindak tutur interseksi, yaitu (1) tindak tutur langsung harfiah, (2) tindak tutur langsung takharfiah, (3) tindak tutur taklangsung harfiah, (4) tindak tutur taklangsung takharfiah.

Di tinjau dari sudut pandang kelayakan pelaku tindak tutur, Fraser (1974) mengemukakan dua jenis tindak tutur : (1) vernakuler, yaitu tindak tutur yang dapat dilakukan oleh setiap anggota masyarakat, dan (2) seremonial, yaitu tindak tutur yang dilakukan oleh orang yang berkelayakan untuk hal yang dituturkannya.

ANALISIS DATA
Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan, maka data dianalisis dan dikelompokkan menurut jenisnya. Terdapat kemungkinan keseluruhan jumlah tindak tutur hasil analisis lebih banyak dari tindak tutur yang terdapat dalam data, karena terdapat beberapa tindak tutur yang menempati lebih dari satu kategori tindak tutur sebagaimana contoh berikut :

“Bagaimana kalau kita…kita kawin!”

Tindak tutur di atas termasuk ke dalam beberapa kategori sekaligus yaitu :
(1) tindak tutur perlokusi karena digunakan untuk membujuk mitra tutur agar mau diajak kawin
(2) direktif karena mitra tutur diharapkan melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu (kawin dengan penutur)
(3) komisif karena mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya (kawin dengan mitra tutur)
(4) isbati karena menciptakan status/keadaan yang baru (perkawinan)
(5) tindak tutur taklangsung harfiah karena kata tanya ‘bagaimana’ tidak digunakan secara konvensional untuk menanyakan sesuatu, melainkan untuk mengajak mitra tutur melakukan sesuatu yang disebutkan dalam tindak tutur.

TINDAK TUTUR

Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.

Di dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin (1962:1-11) membedakan tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji –benar atau salah—dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.

Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu
3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya
5. Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru.

Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kesesuaian antara modus dan fungsinya secara konvensional inilah yang yang merupakan tindak tutur langsung. Sebaliknya, jika tututan deklaratif digunakan untuk bertanya atau memerintah –atau tuturan yang bermodus lain yang digunakan secara tidak konvensional--, tuturan itu merupakan tindak tutur tidak langsung. Sehubungan dengan kelangsungan dan ketaklangsungan tuturan, tindak tutur juga dibedakan menjadi tindak tutur harfiah (maksud sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya) dan tidak harfiah (maksud tidak sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya). Jika dua jenis tindak tutur, langsung dan taklangsung, digabung dengan dua jenis tindak tutur lain, harfiah dan takharfiah, diperoleh empat macam tindak tutur interseksi, yaitu (1) tindak tutur langsung harfiah, (2) tindak tutur langsung takharfiah, (3) tindak tutur taklangsung harfiah, (4) tindak tutur taklangsung takharfiah.

Di tinjau dari sudut pandang kelayakan pelaku tindak tutur, Fraser (1974) mengemukakan dua jenis tindak tutur : (1) vernakuler, yaitu tindak tutur yang dapat dilakukan oleh setiap anggota masyarakat, dan (2) seremonial, yaitu tindak tutur yang dilakukan oleh orang yang berkelayakan untuk hal yang dituturkannya.

ANALISIS DATA
Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan, maka data dianalisis dan dikelompokkan menurut jenisnya. Terdapat kemungkinan keseluruhan jumlah tindak tutur hasil analisis lebih banyak dari tindak tutur yang terdapat dalam data, karena terdapat beberapa tindak tutur yang menempati lebih dari satu kategori tindak tutur sebagaimana contoh berikut :

“Bagaimana kalau kita…kita kawin!”

Tindak tutur di atas termasuk ke dalam beberapa kategori sekaligus yaitu :
(1) tindak tutur perlokusi karena digunakan untuk membujuk mitra tutur agar mau diajak kawin
(2) direktif karena mitra tutur diharapkan melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu (kawin dengan penutur)
(3) komisif karena mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya (kawin dengan mitra tutur)
(4) isbati karena menciptakan status/keadaan yang baru (perkawinan)
(5) tindak tutur taklangsung harfiah karena kata tanya ‘bagaimana’ tidak digunakan secara konvensional untuk menanyakan sesuatu, melainkan untuk mengajak mitra tutur melakukan sesuatu yang disebutkan dalam tindak tutur.

12 comments:

alfian2002 said...

mbak mbok saya dibantu buatin makalah tentang implikatur yang Kompetensi Dasarnya menghayati arti pentingnya implikatur dalam bertutur

han said...

jangan berat2 blog nya.
kalau ttg remy di sich ok.
tp kok lama2 jadi berat.

Anonymous said...

mba tlong bkinin judul skripsi bahasa san sastra indonesia tentang pragatik dengan topik tindak tutur dung...yang keren ya... hehehehehhe,, makci,,,

Charles said...

apa yang dimaksud denagn estetika sastra n faktor2 yang behubungan dengan estetika sasta.tolongin ya mba.
thanks

smartilicious said...

@alfian2002:
makalah tentang implikatur yang Kompetensi Dasarnya menghayati arti pentingnya implikatur dalam bertutur? --> maaf baru sempat balas komen, akhir2 ini lagi sok sibuk :D
makalahnya sudah selesai?
saya bisa aja bantu kalo memang diperlukan.
silakan japri via e-mail di lady_rose142@yahoo.com

@han:
thx untuk masukannya yah,,,:)

@anonymous:
bkinin judul skripsi bahasa dan sastra indonesia tentang pragmatik dengan topik tindak tutur? --> aduh! jangan bikinin gitu duonk ;)
aku bisa aja bantu kalo memang diperlukan.
silakan kontak lebih lanjut via e-mail ato YM di lady_rose142@yahoo.com

@Charles:
estetika sastra n faktor2 yang berhubungan dengan estetika sastra? -->estetika sastra sering dikaitkan dengan moralitas pelaku sastra. saat ini sastra Indonesia dianggap mengalami krisis estetika dalam kaitannya dengan moralitas penulisnya. sastra modern dikesankan telah terjerumus dalam persoalan eros dan erotisisme ketimbang moralitas. tentu saja penilaian ini bersifat subjektif sesuai dengan perspektif yang ada di masing-masing kepala individu.
terus terang saya juga tidak terlalu mendalami sastra karena major saya dalam mempelajari bahasa lebih ke ranah linguistik. mungkin mas Charles bisa googling lebih lanjut untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

nia said...

hai..hai...aku mo tanya, misal tuturan ambigu pragmatiknya gimana?help me ya?

smartilicious said...

@nia:
sorry bgt saya lama gak sempat urus blog. maaf kalo baru skg bisa respon komennya.
tuturan yang bersifat pragmatis memang biasanya selalu memiliki nuansa ambiguitas, tergantung kepekaan pragmatis masing-masing individu.
contoh yang paling gampang, misalnya ketika seorang dosen memberi kuliah di siang hari, tiba-tiba ybs berkata "hawanya panas sekali ya". menyikapi pernyataan ini, mahasiswa dengan kepekaan pragmatik yang rendah akan menjawab "iya nih Bu/Pak, memang hawanya panas banget. saya aja sampe keringetan banyak, nih di punggung sampe berasa keringet ngalir". (hahah,,berlebihan yah contohnya, kalimat kedua diabaikan aja deh).
sementara mahasiswa dengan kepekaan pragmatik tinggi diharapkan menyikapi pernyataan ini dengan langsung menyalakan AC (kalau perlu menanyakan suhu berapa yang dikehendaki dosen, mode swing on atau off, dsb).
semoga cukup membantu.

diana said...

mbak mau nanya. ini ngambil sumbernya dari mana y?

smartilicious said...

@ diana : sumber apa dulu nih? kalau sumber pustaka dan referensi, kiranya sudah tercantum dalam badan tulisan ini.
kalau yang ditanyakan adalah sumber tulisan ini,,ini adalah makalah yang saya tulis sendiri.

luna said...

aku lg ambil jdul skripsi tentang tindak tutur direktif pada dialog talkshow di slh 1 stasiun tv swasta...nah yg aku mw tny mbak.... apa aja ya mbak yg bs dikaji di dlm tt direktif diluar dr bentuknya???? thx ats jwbn"na!!!

luna said...

mbak,jdul skripsi saya ttg tindak tutur direktif pada dialog talkshow di slh 1 tv swasta.....nah yg sya mw tny ke mbak, apa aja sih yg bs di kaji selain bentuk2 dr tt direktif itu sendiri......????makasi ats jwbn"na

Gee chinjeolhan agassi said...

pak... tentang lokusi,ilokusi,perlokusi donk...........