27 April 2010

GEDICHT

Read More......
Toen Ik mijn eerste zoontje
ter wereld bracht
Toen kreeg Ik
een schattige baby
Die er nu van houdt
alles te debatteren
Maar toch
is hij altijd
mijn lieveling

03 April 2010

TAMPANGKU

Read More......
Tampangku? Ya biasa aja sih, seperi orang kebanyakan. Dan karena aku hidup di Jawa yang banyak orang Jawanya, ‘seperti kebanyakan orang’ bersinonim dengan bertampang seperti orang Jawa.


Dalam usia yang udah brasa makin tuwir ini, seingatku hanya beberapa orang yang menyadari kalau aku tidak sepenuhnya Jawa. FYI, beberapa orang berarti masih bisa dihitung dengan jari di kedua tangan. Misalnya ketika aku beli barang rada banyak di sebuah minimarket, entah kenapa kasirnya tiba-tiba manggil aku ‘Cik’. Atau engkong penjual pukis keju yang selalu manggil ‘Nik’ karena kebetulan emang kenal dengan keluarga besar Papah. Tapi kejadian-kejadian semacam itu termasuk langka, once in a blue moon kalau orang bule bilang. Yang sering ya dipanggil ‘Mbak’ atau “Dik’ tergantung asumsi bin perkiraan umur yang dilakukan secara sepihak oleh si pemanggil.


Masalah jadi makin ribet jika dikaitkan dengan logat bicara. Sampai sekarang belum ada yang bisa nebak dengan benar aku berasal dari daerah mana. Seorang teman malah bilang aku rootless alias tidak berakar ke budaya tertentu. Lha wong keluarga besar ya emang campur aduk gak karuan dari berbagai ras, suku, agama. Masih ditambah faktor orang tua yang cerai sejak aku bayi memaksa aku untuk tinggal berpindah-pindah antara ikut Emak, Papah, atau Ibu yang tinggal di daerah-daerah dengan logat berbeda.


Pengalaman dibesarkan oleh Emak bersama beberapa sepupu yang mengalami nasib yang sama (ortu cerai) merupakan trauma tersendiri buatku. Di antara sekian banyak cucu Emak, aku lah si itik buruk rupa. Bahkan adik Papah yang jauh kalah ganteng dibanding Papah pun, ternyata dengan sukses berhasil punya keturunan yang cuantik-cuantik. Pastilah Papah-ku yang cakep itu telah melakukan kesalahan besar di kehidupan sebelumnya sampai harus menanggung beban punya anak yang tidak mewarisi wajah cakepnya. Body gendut, kulit item, dikombinasi dengan hidung pesek, benar-benar membuat aku jadi sasaran tembak yang sempurna untuk para sepupu. Apalagi aku yang termuda di antara mereka. Julukan-julukan aneh pun dengan semangat mereka teriakkan sebagai pengganti nama resmi yang telah susah payah disahkan Papah di Kantor Catatan Sipil. Trauma ini ternyata lumayan berpengaruh ke kepercayaan diriku. Aku tumbuh sebagai anak yang minder, tidak percaya diri, gampang grogi, bahkan puncaknya,,,menjadi gagap.


Beruntung aku punya otak jempolan --itu istilah yang dulu sering dipakai Emak-- sehingga selalu diterima di sekolah-sekolah jempolan di wilayah kami. Hal ini terus berlanjut sampai tiba waktu kuliah. Aku kuliah di universitas yang kalau aku sebut namanya sebagai almamater, selalu membuat partner bicara membelalak kagum. Pelan-pelan rasa percaya diri tumbuh. Ditambah faktor berat badan yang terus menyusut, lambat laun mengubahku jadi angsa (quotation favorit saat ini, pede teuteup lebih baik daripada minder :P ). Kulit coklat gelap yang dulu kubenci, sekarang justru membuatku bangga. Pergaulan yang makin luas dengan berbagai bangsa membuat mataku terbuka bahwa ternyata banyak orang yang justru ingin mempunyai kulit seperti kulitku. Salah satu teman bule malah pernah bilang kulitku ini adalah jenis what so called ‘honey skin’. Which means?, tanyaku. ‘Brown, smooth, and smells good’, dia bilang. Hmm,,,bikin melayang kan? Tunggu sampai kau dengar kalimat penutupnya ‘Would it taste good as well?’. Huaaa,,,langsung kabur deh! Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti ucapan seorang kanibal.


Meski dengan sukses aku bisa membuat semua mata melihat ketika masuk ke suatu ruangan, tetep saja masih ada sisi ‘itik buruk rupa’ yang tersisa di diriku. Ketika sedang tidak ingin diperhatikan atau dilihat siapapun, aku tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dipakai, dan dengan mudah aku akan ‘hilang’ di keramaian. Aku jadi seperti bunglon, bisa banget tampil macho, sporty, feminin, girly, you name it. Semua tergantung mood saat buka lemari untuk pilih baju. Apapun, ternyata susah untuk tidak kelihatan sexy. Seorang teman berjenis kelamin cowok yang emang lumayan akrab, dengan kurang ajarnya pernah bilang gak mungkin seorang cowok normal bisa lihat aku tanpa membayangkan aku telanjang. Weks! Gak tau musti marah atau tersanjung.


Kadang berharap bisa kembali ke masa-masa remaja dengan bekal semua yang kutahu saat ini. Remaja kadang bisa sangat kejam terhadap temannya tanpa yang bersangkutan sendiri menyadari betul apa yang diperbuat. Kadang memang jadi tertawa keras-keras kalau ingat semua yang terjadi di masa remaja, baik dan buruknya. Deskripsi si itik buruk rupa tentu menggambarkan sisi mana yang lebih dominan. Mulai rasa minder karena badan gendut, diiringi diet keras yang tidak menghasilkan apapun. Sampai cinta tak berbalas yang sampai membuatku sakit cukup parah hingga terpaksa tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Semua memang cuma kenangan yang memancing tawa saat diingat sekarang ini. Tapi rasa pahit ketika semua itu terjadi, juga masih segar di ingatan.


Saatnya balas dendam! Kegiatan paling menyenangkan sekarang adalah mengindoktrinasi para keponakan yang udah mulai remaja. Penampilan fisik tidak berarti apapun, girls! Biar saja para remaja cowok penuh jerawat itu berebut si cewek favorit di sekolah, tidak peduli apa isi otaknya (dengan asumsi dia punya). Pada akhirnya, otak yang akan berbicara. Jangan pernah berhenti isi otak, lakukan yang terbaik, sekeras yang kau bisa. Haregene, penampilan fisik bisa banget diakali dengan cara apapun. Dan akan tiba waktunya para cowok itu memohon (itupun kalau dia berani lakukan), atau bahkan cuma bisa berharap untuk berdekatan denganmu.

12 March 2010

De volgorde van kinderen in een gezin en hun karakter en gedrag

Read More......
Een onderzoek zegd dat er een relatie is tussen de volgorde van kinderen in een gezin en hun karakter en gedrag; oudste kinderen zijn bazig, middelste kinderen zijn lui, jongste kinderen zijn verwend. Daar ben ik daarmee eens.

Ik heb sommige oudste kinderen als mijn vrienden en ik kan zien dat ze bazig zijn. Sommige van hun zijn heel bazig, andere zijn niet te bazig, maar ze zijn toch inderdaad bazig. Misschien zijn ze gewoon om iets laten doen te zeggen naar hun jonger broer(s) of zus(sen). Maar de oudste kinderen zijn ook zelfstandig en verantwoordelijk. Ze moeten een tussenpersoon zijn als hun jonger broer(s) of zus(sen) twisten. Meeste oudste kinderen zijn partijdig voor de jongste kinderen. Dat maakt de jongste kinderen verwend zijn. Ze weten dat ze de kleinst lichaam hebben die ze gebruiken voor aantrekken de sympathie van hun ouder broer(s) of zus(sen) of ouders. Ze hebben gewoonlijk de charme glimlachen die ze weten goed hoe te gebruiken. En de middelste kinderen zijn precies in het midden tussen de andere twee kanten. Mensen zeggen dat ze lui zijn. Ik denk dat ze niet altijd lui zijn. Ze zijn de diplomaten, ik zou zeggen. Ze zijn erg goed in de diplomatie bedrijven. Ze weten elke houdingen tegenover hun ouders, ouder broer(s) of zus(sen), en jonger broer(s) of zus(sen).

En mijn eigen ervaring? Ik ben een enig kind. Ik heb dus alle karakters en gedrag van alle sorten kinderen; de goede en de slechte. Ik ben soms bazig, zelfstandig, en verantwoordelijk. Maar soms ben ik ook verwend en egoist. En ben ik toch een goed diplomaat. In dat geval, voel me ik geluk hebben.

16 January 2010

SEXY

Read More......
It was splendid to have a nice guy whispering your name in the morning. And more fantastic when the first thing you saw when you opened your eyes was him, sitting on the bed next to you, wearing his black shirt, and funny, kissable smile from the yummy lips of his, trying hard to restrain the urge to laugh seeing your sleepy face struggling to regain consciousness.

He looked dangerously sexy you could stare at him all day, only if you could open your eyes. And before you’re flying too high with imagination, a friendly voice dragged you down to reality: “Wake up, Babe. We have to leave in an hour.”
You’re absurdly murmuring, begging for his mercy to let you back to sleep. As response, you got a smooth squeeze on your butt, then, he stood up slowly and walked several steps away. “You’d like tea or coffee?” that nice voice once again came into your ears.

You pulled yourself out of the comfy blanket. Unconsciously, a heavy deep voice came out from your mouth, “Naaa… I’d have a hot shower instead.”

And it worked, the hot shower felt good, nicely opened your eyes.

Out of the bathroom, you saw your lappy neatly wrapped up on the table. So was the charger cable, which you left messily on the floor last night. Next to your lappy, those girl things you needed to take away with you as you leave were lined up.
You looked around to see where the angel. And there he was, sitting on the couch, enjoying the hot tea he just made, watching tv and patiently waiting for you to get yourself ready.

Sweet… and extra-ordinarily sexy!!!

09 December 2009

The English Circle

Read More......
Joining the WIC was such a story for me. I had spent months just to get to know what I would face once I join the club. Most of the members are elderly ladies. To be honest, it made me hesitate at the first place. I was just not sure whether I could mingle with these ladies.

Time went by and I got several occassions to mingle with them. And everything went even better than I expected. They talk a lot about their lifes, their experiences, the mistakes they have made when they were young, what they have learnt from those mistakes, their regrets…all things that I would never know if I did not get any chance to mingle with them. I enjoy hanging around with these nice elderly ladies. I learn many things from them, mostly about life. I thought if I could learn so many things from other’s life experience, then I do not need to make the same mistake in my life. This thought would encourage me to use the time in my life more effectively, more meaningfully, and I do hope, more wisely.

Talking about these ladies, I can not tell other than that they are so nice, smart, and fun to be with. I play bridge with them, attend the English circle, and taught them some French. All of the circles are nice and fun, but the one attracts me the most is the English circle. Joining this circle was definitely another story for me.

There are so many good laughs in this circle. One of my friends has told me that having fun is when you can share some good laughs with someone. And I definitely have those good laughs whenever I come to the English circle. We share the bad times and the good times that happened to each member. I felt sad when I heard our coordinator’s beautiful lovely dog Toutou got dead from pregnancy. In other time, I would also felt happy for one of my fellow circle members when she told us that her son just got a scholarship to continue his study in Singapore. It is always good to have someone to share with. As I have learnt from this circle, “Share grief is half the sorrow, but happiness when shared, is doubled”.

In short, I would say this circle is such an encouraging circle to join, from where you can learn many things and share some good laughs. Many other WIC’s members might say it is the Eating circle instead of the English circle, considering there is always so many food served during the meeting. But for me, I would always call it the FUN English circle.

SPORT?...DOE MAAR,,,

Read More......
Ik wil graag bijna alle sporten doen. Ik ben een sportief type en ik houd van sport.

Toen ik klein was, deed ik bijna alle fysieke activiteiten zoals touwtjespringen, krijgertje spelen, verstoppertje spelen, enzovoort. En toen ik op schoolleeftijd, verplichtte mijn vader me om badminton en schaken te leren. Hij zegde dat badminton me gezond zou maken en dat schaken me knap zou maken. Daarna, leerde ik andere sporten op school, zoals volleybal, kasti, voetbal, en andere fysieke activiteiten.
Ik heb nu minder tijd om dia activiteiten te doen, maar ik zwem nog steeds elke dag. Soms schaak ik, speel ik scrabble, dart, of badminton met mijn zoontjes of vrienden. Ik heb bijna alle sporten gedaan, maar ik heb nog nooit gesurft, gediepzeedoken, of geschaatst. Ik wil dat graag leren.

Ik vind dat sport altijd goed is om te doen. Als ik regelmatig sport, voel ik me goed en gezond. Als bonus, krijg ik een goed figuur;)

03 December 2009

SEMARANG HERITAGE WALK III : SEMARANG, KANALEN, EN HAVENSTAD

Read More......
Semarang Heritage Walk merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pusat Budaya Belanda Widya Mitra. Pada Sabtu 14 November 2009, untuk ketiga kalinya acara ini kembali dilaksanakan. Peserta diminta berkumpul di Widya Mitra pada pukul 7 pagi. Harga tiket yang murah meriah ternyata berpengaruh besar terhadap jumlah peserta. Dua mini bus yang disediakan panitia dengan sukses terjejali sampai penuh. Dengan pasrah aku terdesak kesana kemari dalam usaha mendapatkan tempat duduk. Tanpa bermaksud mengabaikan kehadiran beberapa opa-opa dan oma-oma yang duduk manis di deretan depan kursi bus, mayoritas penduduk bus yang aku tumpangi ternyata mahasiswa S1 Sejarah Undip. Jadi kebayang dong gimana riuhnya suasana bus. Yang lebih di luar dugaan, para ABG itu (eh, mahasiswa S1 tuh masi keitung abege gak sih?) ternyata semuanya omong pakai bahasa Indonesia dengan logat Jakarta/Betawi. Jadi bingung,,,perasaan kan aku udah pulang ke Semarang lagi, kok masih berasa di Jakarta gini 

Rute perjalanan diawali dengan kunjungan ke Kampung Melayu. Menyusuri jalan Layur, terlihat Masjid Menara yang sukses melakukan perlawanan terhadap waktu. Meski usia tua berusaha menggerogoti keindahannya, masjid ini tetap berdiri dengan indahnya. Bentuknya yang unik dan warna cat dinding yang cerah membuat masjid ini terlihat makin menarik. Beberapa celetukan peserta yang minta turun dari bus untuk masuk ke lokasi masjid, dengan pasti ditolak oleh panitia. Alasan yang dikemukakan dengan jelas bisa dilihat dengan mata telanjang, jalan Layur sedang terendam air sedalam 10 cm, demikian pula halaman masjid. Daerah ini memang kawasan rawan banjir. Hujan deras yang berlangsung selama 1 jam saja sudah cukup jadi alasan untuk membuat kampung ini kalang kabut terendam banjir. Masalah yang dihadapi penduduk setempat selama musim penghujan ini ternyata tidak dengan serta merta hilang ketika musim kemarau datang. Pada musim kemarau, penduduk kampung ini akan tetap berurusan dengan air yang berasal dari naiknya permukaan air laut, fenomena yang biasa disebut rob.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pelabuhan Lama. Keberadaan pelabuhan ini ditandai dengan berdirinya menara mercusuar Willem III. Konon nama menara mercusuar ini diambil dari nama Raja Willem III yang meresmikan menara tersebut pada akhir abad ke-19. Sangat disayangkan kondisi menara ini semakin mengenaskan karena level tanah yang semakin turun. Saat ini dasar menara telah berada lebih dari 2 meter di bawah permukaan tanah di sekitarnya. Kondisi mengenaskan yang terbiarkan ini terasa semakin ironis apabila mengingat menara mercusuar ini masih melakukan fungsinya dengan baik.

Menara mercusuar dengan ketinggian sekitar 30 meter ini terdiri atas 10 lantai. Rombongan yang ingin naik ke puncak menara terpaksa dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Hal ini perlu dilakukan mengingat kekuatan bangunan yang sudah tua. Pengalaman menaiki anak tangga demi anak tangga menuju puncak menara ternyata cukup mendebarkan. Tiap lantai memiliki 16 anak tangga melingkar, makin naik ke atas lebar ruangan semakin sempit sehingga lebar anak tangga juga semakin mengecil. Kondisi ini makin diperseru dengan adanya genangan air di sebagian anak tangga yang membuat hati was-was takut tergelincir jatuh. Ternyata para petugas pengawas menara ini memang punya alasan kuat ketika meminta pengunjung melepas alas kaki sebelum mulai menaiki anak tangga pertama.
Setelah puas bergantian menikmati pemandangan kota Semarang dari atas puncak menara mercusuar, rombongan bergerak ke kawasan Sleko. Di kawasan ini terdapat sebuah bangunan tua yang dulunya berfungsi sebagai menara pengawas kapal dan kantor pelabuhan. Gedung yang masih menyiratkan sisa-sisa kemegahan di masa lalu ini, sekarang tinggal puing bangunan dengan lapisan dinding yang telah terkelupas dan tumpukan sampah di sekitarnya.

Tujuan berikutnya adalah kawasan Pecinan, di mana terdapat klenteng Tay Kak Sie dengan replika kapal Cheng Ho di depannya. Dengan segera rombongan terpencar menjadi beberapa kelompok sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Yang bergegas menaiki replika kapal dan berebut berpose di depan kamera, pastilah memang berminat pada kamera. Demikian pula pecahan rombongan yang berlarian menyerbu lunpia gang Lombok, bisa dipastikan merupakan gerombolan si gembul yang akan dengan lahap menyantap lunpia super enak ini. Dan bicara tentang makanan, sudah pasti aku termasuk di dalamnya :D

Acara ditutup dengan kunjungan ke Lawang Sewu, yang akan diakhiri dengan diskusi yang menghadirkan nara sumber yang berkompeten di bidang arkeologi dan konservasi bangunan kuno. Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu dibagikan makan siang dalam kotak yang (alamak) isinya menggugah selera. Perut yang baru saja diisi lunpia ternyata teuteup menjerit minta diisi lagi begitu melihat isi kotak makanan. Isi diskusi yang sebenarnya menarik pun akhirnya terpaksa dilalui dengan kepala yang beberapa kali terkulai tanpa kontrol akibat kelelahan dan kekenyangan.
Singkat kata, acara ini layak kunjung. Ucapan selamat dan terimakasih layak disampaikan untuk koordinator Widya Mitra Satrio Seno Prakoso, yang semoga pada tahun-tahun mendatang tidak akan hilang semangat melanjutkan kegiatan ini.